Salah satu proklamator kita yaitu Sukarno lahir dengan nama Kusno. Nama itu kemudia diganti oleh kedua orangtuanya. Ketika memilih nama pengganti kedua orantuanya terinspirasi oleh salah satu tokoh dalam wiracaritera Mahabharata dan tokoh pewayangan.
Kusno kecil sering sakit. Dalam tradisi Jawa hal tersebut diyakini karena namanya mungkin tidak cocok ole karenanya perlu diganti. Saya memiliki senior yang bernama Salim. Ia bercerita bahwa nama kecilnya adalah Thoyib. Karena sering sakit maka namanya diganti menjadi Slamet. Dan begitu mondo makan namanya diganti menjadi Salim.
Jadi pergantian nama itu lumrah dalam tradisi Jawa.
Ketika hendak merubah nama itulah kedua orangtua sang proklamator teringat akan toko Raja Angga Karna, anak tertua dari Kunti, ibunda Para Pandawa. Ya, Karna adalah kakak dari para Pandawa.
Ada perbedaan antara versi asli Mahabharata dan versi pewayangan Islam. Ini karena adanya penyesuaian kisah dengan ajaran Islam. Versi asli menyebut bahwa Pandawa bukanlah anak kandung dari Pandu. Ini karena Pandu dikutuk oleh Resi yang dibunuhnya secara tidak sengaja. Sedangkan versi pewayangan Islam Para Pandawa merupakan darah daging Pandu.
Terlepas dari perbedaan tersebut kedua versi menempatkan Karna sebagai tokoh yang unik. Walaupun tahu para Kurawa akan kalah Karna tetap berpihak ke mereka karena merasa berhutang budi dan dimuliakan oleh mereka. Ia pun rela bermusuhan dengan para saudaranya.
Sosok Karna yang teguh pendirian dan memagang janjinya walaupun harus berhadapan dengan para adiknya inilah yang kemudian membuat kedua orang sang proklamator kepincut. Nama Kusno pun dirubah menjadi Sukarno.