Doa Karna — Mayoritas penduduk Indonesia menganut Islam. Lebih dari 90% dari sekitar 250 juta penduduk beragama Islam. Jumlah yang begitu besar tersebut tentu tidak menganut Islam yang sama persis. Pasti ada perbedaan di sana-sini. Untuk itulah kita perlu untuk mendiskusikan doa qunut subuh dan persatuan umat.
Apa hubungan hal tersebut dengan persatuan umat?
Terdapat beberapa pendapat tentang kapan Islam masuk ke kepulauan Nusantara. Ada yang berpendapat bahwa Islam masuk pada abad ke-13, dan itu adalah orientalis belanda Snouck Hurgronje. Dia berpegang pada makam raja Kerajaan Samudera Pasai yang dimakamkan pada Abad tersebut. Pendapat lain mengatakan bahwa Islam masuk jauh sebelum abad ke-13. Ini karena Islam masuk melalui jalur damai dan membutuhkan waktu tidak sebentar untuk melakukan konsolidasi politik sehingga berdiri kerajaan Islam. Ada juga yang berpendapat masuk pada abad ke-11 denan bukti makam Fatimah Binti Maimun di Gresik.
Untuk asal atau jalur kedatangan juga ada beberapa pandangan. Snouck berpendapat bahwa Islam masuk melewati jalur Gujarat India. Ini dibuktikan dengan corak Islam yang lebih menekankan sisi tasawuf dan torikot, ajaran Islam yang banyak terpengaruh oleh kultur masyarakat di lembah Hinustan.
Haji Abdul Karim Amrullah atau Hamka tidak sependapat dengan hal tersebut. Ia mengatakan bahwa Islam masuk dari Timur Tengah langsung, yaitu dari Mekah. Madzhab fikih yang dianut oleh mayoritas muslim di kepulauan nusantara menjadi buktinya. Yang lain lagi berpendapat bahwa jalurnya adalah Persia dengan ditemukan beberapa kemiripan ajaran dan adobsi bahasa. Ada juga yang mengatakan masuk lewat jalur Cina. Intinya banyak jalur
Islam Indonesia Sangat Beragam
Dari banyak jalur masuknya Islam ini mengakibatkan keragaman dan kemajmukan. Maka perbedaan soal qunut adalah hal yang kecil. Walau tentu mendiskusikan doa qunut subuh bukan berarti tidak bermanfaat. Dengan mendiskusikan akhirnya kita mengetahui alasan masing-masing pendapat.
Kita dapat memjumpai keragaman praktik Islam di Indonesia. Keragaman tersebut tentu perlu dijaga dan tidak perlu takut akan perpecahan. Dalam politik kita pernah berekperimen dengan mendirikan 1 partai untuk seluruh umat Islam Indonesia. Tapi fakta membuktikan bahwa keragaman tersebut tidak harus diwadahi dalam satu partai. Partai tersebut akhirnya pecah.
Pengalaman pecahnya partai itu memberikan pelajaran bahwa perlu mencari cara lain untuk mengelola perbedaan dan keragaman umat.
Begitu juga dengan doa qunut subuh. Kita tidak usah berusaha mencari pendapat paling benar dan berupaya membuat yang lain mengikuti pendapat tersebut. Yang harus kita lakukan adalah membuka pikiran bahwa perbedaan pendapat itu ada dan harus ditoleransi.